Selasa, 22 Maret 2016

Toleransi

Sudah hampir 3 bulan saya terlalu enggan beranjak dari rasa malas untuk menulis dan mengisi blog ini yang seakan kosong oleh kerjaan. Tak dipungkiri juga menulis disela - sela waktu kerja juga tidak gampang. Kerjaan yang datang silih berganti serta schedule yang datang dilaur rencana. Selain malas nulis dirumah akibat laptop yang sudah berapa tahun rusak dan enggan membawa ke tempat service dan masih menyalurkan hobi lama yang lama kependam menjadi " Chef". 

Berharap di tahun yang baru ini. langkah yang telah disusun di tahun kemarin bisa terealisasi. Hopely bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. tak berharap lebih banyak dari apapun. Ya.. Sederhana impian bagi seorang insan yang lemah ini. 

'''''''

Bukanlah hal yang menarik untuk saya tulis mengenai tema ini, cukup saya saja yang merasakan akan tidak indahnya toleransi yag saya alami di bagian saya bekerja. Tapi geregetan juga untuk menulis dan bisa memberikan pembelajaran buat penulis sendiri.

Tidak mudah untuk bisa move on dari tempat kerja yang kemarin, sudah 3 tahun lebih waktu kebersamaan untuk selalu berjuang dan saling memotivasi agar bisa sukses. Tapi apalah daya saya terlalu lemah buat survive dan mengahapinya. Bukanlah psikis atau fisik, tapi lebih ke prinsip dan kayakinan yang kuat untuk bisa berjuang dan bekerja dengan ikhlas. Prinsip itu roh dan jiwa kita dalam bertindak sedangkan keyakinan adalah kekuatan dalam bertindak dan ikhlas adalah hasil yang terus terasa.

Terasa banget kerja di tempat baru, banyak tantangan dan kesempatan yang hadir mewarnai sehari - hari. Bukan membandingkan yang lama dengan yang baru, tapi lebih kesempatan buat kita untuk beribadah tanpa ada rasa takut dan tenang itulah yang aku cari. Prinsip menghargai dan menghormati disini lebih besar dibandingkan dengan tempat yang lama.

Saya selalu ingat prinsip "dimana bumi berpijak, disitu langit di junjung". Sebagai bujang yang masih status perantau nomaden. Bukankah perbedaan itu fitrah manusia, bukankah beribadah hak manusia juga...?

Tak dapat dipungkiri juga saat saya dan temen - teman di korea, Kita menghargai dan menghormati kebiasaan mereka tanpa mengindahkan keyakinan kita. Beda orang beda pemikiran, dilain sisi membuka pergaulan akan memberikan pembelajaran teloransi.

Konflik personal dengan personal lainnya harusnya dengan cepat terbaca oleh management untuk dicarikan solusi dan jalan tengah tentang masalah ini. Bukan masalah kecil atau besarnya, bukan masalah siapa yang lebih berkuasa. 

Sudah waktunya dijaman yang modern dan manusia makin dewasa, hal intoleransi harusnya tidak terjadi. Bukankah tempat kerja ini berorientasi global dan merekrut karyawan dengan kualitas baik. Mungkin hanya individu atau personal tertentu saja yang bisa merusak kenyamanan bekerja. Individu yang mengaku punya pengalaman, individu yang berasal dari negara maju. 

Tolerasi bukan masalah dari mana individu berasal, bukan masalah tua ataupun muda. Toleransi berasal dari individu - individu yang punya jiwa kesatria akan indahnya sebuah perbedaan.

Semoga tulisan ini membuka mata batin pribadi saya untuk lebih peduli dengan lingkungan dan sosial di sekitar saya bekerja. Hal sedikit ini berharap bisa membawa perubahan di perusahaan ini.


Care to your Colleague 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar